MIKROALGA sebagai SUMBER ENERGI TERBARUKAN

Dengan perkembangan kebutuhan manusia akan energi,terutama bahan bakar dapat menyebabkan semakin menipisnya persedian akan bahan bakar fosil,hal ini dapat mendorong para peneliti untuk menemikan alternatifnya.

Saat ini banyak alternatif –alternatif yang telah ditemukan,salah satunya adalah pengembangan mikroalga yang saat ini telah menjadi sorotan dunia,sebagai bahan alternatif,terutama sebagai bahan bakar,ataupun lainnya.

Mikroalga merupakan tumbuhan berukuran renik yang termasuk dalam kelas alga,diameternya 3-30µm,baik sel tugal maupun koloni yang hidup diseluruh wilayah perairan tawar maupun laut,yang sering disebut fitoplankon.Mikroalga merupakan kelompok organisme yang beragam mampu menghasilkan banyak senyawa kima dan ada juga yang belum diketahui.Produk yang dihasilkan antara lain cerotenoid,phycobilin,asam lemak, polysakarida,vitamin,sterol,enzim dan senyawa bioaktif lainnya (Skjak-Braek, 1992).

Sifat yang paling berguna untuk mengidentifikasi algae adalah warna atau pigmen mereka. Pigmen-pigmen tersebut menyerap energi cahaya dan mengubahnya menjadi biomassa melalui proses fotosintesis. Ada 3 kelas utama pigmen dan berbagai kombinasi yang memberikan warna khas pada algae. Kelompok utama dari pigmen hijau adalah chlorophil, dengan clorophil a sebagai pigmen utama yang menyerap gelombang panjang biru dan merah sebagai cahaya yang penting untuk fotosintesis.Sebagian besar carotenoid lebih bersifat melindungi pigmen lain daripada ikut secara langsung dalam reaksi fotosintesis(Anonim,2015).Mikroalga itu sendiri banyak digunakan dalam berbagai macam hal seperti,terlihat pada bagan.

Diindonesia sendiri mikroalga sangat mudah tumbuh dengan cepat,bahkan ada yang bisa tumbuh dalam waktu tujuh hari.Dari segi kualitas mikroalga merupakan mikroorganisme laut dengan kandungan minyak yang sangat tinggi(mencapai 50%).Saat ini mikroorganisme yang menjadi sorotan dunia adalah mikroalga,mikroalga saat ini diprioritaskan sebagai bahan alternatif bahan bakar,slah satunya yang saat ini ingin dikembangkan adalah solar sel yang menggunakan mikroalga sebagai bahan dasarnya.

Pada umumnya nilai nutrisi mokroalgae dihubungkan langsung dengan spesies, suplai nutrient, cahaya, dan kondisi fisika kimia selama pertumbuhan selnya. Sebagai contoh, ketika Monodus subterraneus tumbuh ekponensial, sel algae mempunyai tingkat respirasi dan fotosintesa yang tinggi, dan kandungan proteinnya lebih dari 70 % berat kering serta tingginya produksi klorofil dan asam nukleat, tetapi mempunyai kandungan karbohidrat dan lemak yang rendah (fogg, 1959).