Penentuan Kadar PAHs di Perairan Teluk Lampung

PAHs adalah senyawa organik yang terdiri dari beberapa rantai siklik aromatik dan bersifat hidrofobik.  Senyawa PAH mengandung lebih dari 100 senyawa kimia berbeda hasil pembakaran tidak sempurna dari batubara, minyak dan gas, sampah, dan zat organik lainnya yang tersebar luas di alam (McGrath et al., 2007).

Keberadaan PAH di alam dapat berasal dari dua sumber, yakni sumber alami dan sumber antropogenik.  Sumber alami meliputi; kebakaran hutan dan padang rumput, rembesan minyak bumi, gunung berapi, tumbuhan yang berklorofil, jamur dan bakteri, sedangkan sumber antropogenik meliputi; minyak bumi, pembangkit listrik, insenerasi, pemanas rumah, batubara, karbon hitam, aspal dan mesin pembakaran (Lah, 2011).

PAH merupakan polutan organik yang sering dijumpai di laut, sedimen pantai, muara, dan dasar kontinen dalam konsentrasi yang relatif tinggi (Liu et al., 2007).  Umumnya kadar PAH yang tinggi dijumpai dalam sedimen laut yang dekat dengan pantai.  Senyawa PAH yang mengendap ke dasar perairan sangat beracun bagi organism perairan.  Banyak hasil penelitian menunjukan bahwa PAH yang berasal dari kegiatan manusia dapat menyebabkan kanker dan efek mutagenik pada organism (Zakaria dan Mahat, 2006).

Untuk mengetahui dampak negatif PAH terhadap kualitas air laut dan sedimen untuk kepentingan biota laut di teluk Lampung, Dr. Rinawati (dosen kimia FMIPA UNILA) bersama  Laboratorium Sentra Inovasi Teknologi mengembangkan metode pengukuran kadar PAHs dalam perairan Teluk Lampung. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendapatkan data tingkat pencemaran PAHs dibeberapa titik perairan Teluk Lampung. Hasilnya diharapakan dapat memberikan informasi dan masukan kepada pehak yang berkepentinagn dalam rangka pengelolaan perairan Teluk Lampung secara berkesinambungan.